Rabu, 23 Desember 2015

SALAH NALAR


 MAKALAH BAHASA INDONESIA

SALAH NALAR








Nama Dosen         : Drs. Budi Santoso,MM




Disusun Oleh


Fadli Mardiansyah (23213054)
3EB22


Fakultas Ekonomi

Universitas Gunadarma

2015-2016


KATA PENGANTAR

Penulis memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini bertema tentang “Salah Nalar”.
Penulis berharap semoga makalah yang penulis buat ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Mudah-mudahan makalah ini dapat menambah wawasan para pembaca serta lebih mengetahui tentang penalaran induktif.
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak menerima bantuan dari berbagi pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Ibu Prof E.S. Margianti,SE,MM, Rektor Universitas Gunadarma.
2.      Bapak Ir. Toto Sugiharto, M.sc., Ph.D, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.
3.      Bapak Drs. Budi santoso, MM, Dosen Pembimbing Penulisan Makalah Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.

            Penulis menyadari bahwa penulisan ilmiah ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran serta komentar yang bersifat membangun dan menuju kesempurnaan. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih. Semoga penulisan ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua orang.



Bekasi, 24 desember 2015



                                                                                      Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang................................................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah........................................................................................................... 1
1.3. Tujuan Penulisan............................................................................................................. 1
1.4. Manfaat Penulisan.......................................................................................................... 2
1.5. Metode Penulisan........................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Macam-macam Salah Nalar............................................................................................ 3
2.2. Mengapa Salah Nalar Sering Terjadi.............................................................................. 5
2.3. Faktor Penyebab Terjadinya Salah Nalar........................................................................ 5
2.4. Cara Mengatasi dan Menghindari Salah Nalar............................................................... 6

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan..................................................................................................................... 7
3.2. Saran............................................................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Berpikir merupakan kata yang tentunya sudah lazim kita dengar. Bahkan berpikir dilakukan oleh semua orang dalam bertindak dan lain sebagainya. Namun, tidak semua orang mengetahui makna dari kata berpikir itu sendiri. Berpikir merupakan obyek material logika. Obyek berpikir meliputi kegiatan pikiran, akal budi manusia dan lain sebagainya. Dengan berpikir, manusia mengolah dan mengerjakan pengetahuan yang telah diperolehnya sehingga dapat memperoleh kebenaran. Pengolahan, pengerjaan ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan serta menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lain.
Obyek material logika bukanlah bahan-bahan kimia atau salah satu bahasa. Akan tetapi, bukan sembarangan berpikir yang diselelidiki dalam logika, melainkan dalam logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatan. Oleh karena itu, berpikir lurus, tepat, merupakan obyek formal logika. Kapan suatu pemikiran disebut lurus? Suatu pemikiran disebut lurus, tepat, apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan dalam logika. Jika peraturan-peraturan itu ditepati, tentu berbagai kesalahan atau kesesatan dapat dihindarkan. Jadi, kebenaran juga dapat diperoleh dengan lebih mudah dan lebih aman. Semua ini menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pegangan atau pedoman untuk pemikiran.
Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang dalam proses berpikir, sering terjadi kekeliruan dalam menafsirkan atau menarik suatu kesimpulan. Kekeliruan atau kesalahan dalam proses berpikir tersebut disebut dengan salah nalar. Pengertian lain mengatakan bahwa salah nalar merupakan gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat. Kekeliruan dapat terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor, yaitu faktor emosional, kecerobohan, atau ketidaktahuan. Kekeliruan dapat dihindari dengan  mengkaji terlebih dahulu sesuatu sebelum kita menafsirkan atau menarik sebuah kesimpulan.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas secara lebih mendalam mengenai salah nalar.

1.2.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
a.    Apa saja macam-macam salah nalar?
b.    Mengapa salah nalar sering terjadi?
c.    Apa saja faktor penyebab terjadinya salah nalar?
d.   Bagaimana cara mengatasi dan menghindari salah nalar?

1.3.      Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.    Dapat memahami apa saja macam-macam salah nalar.
b.    Dapat memahami mengapa salah nalar sering terjadi.
c.    Dapat memahami apa yang menyebabkan terjadinya salah nalar.
d.   Dapat memahami bagaimana cara mengatasi dan menghindari salah nalar.

1.4.   Manfaat Penulisan
                 Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.    Untuk mengetahui  apa saja macam-macam salah nalar.
b.    Untuk mengetahui  mengapa salah nalar sering terjadi.
c.    Untuk mengetahui apa yang menyebabkan terjadinya salah nalar.
d.   Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi dan menghindari salah nalar.

1.5.    Metode Penulisan
Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini, sangat sederhana. Penulis mengumpulkan informasi dengan cara menelaah data dari media internet.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      Macam-macam Salah Nalar
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi perlu untuk kita perhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara cermat sehingga salah nalar dapat terminimalisasikan. Ada beberapa macam salah nalar, yaitu sebagai berikut :
1.    Generalisasi yang Terlalu Luas
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi tersebut sehingga kesimpulan yang diambil menjadi salah. Selain itu, salah nalar jenis ini terjadi dikarenakan kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap “menggampangkan”, malas untuk mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas.
Premis adalah kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan simpulan di dalam logika. Sementara itu yang dimaksud dengan generalisasi adalah perihal membuat suatu gagasan lebih sederhana dari pada yang sebenarnya. Contoh Generalisasi yang terlalu luas sebagai berikut:
a)    Setiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais sejati.
b)   Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.
Ada dua bentuk kesalahan generalisasi yang biasa muncul. Dua bentuk kesalahan tersebut adalah sebagai berikut:
a.    Generalisasi Sepintas
Kesalahan ini terjadi dikarenakan penulis membuat generalisasi berdasarkan data atau evidensi yang sangat sedikit.
Contoh: Semua anak yang jenius akan sukses dalam belajar.
Pernyataan tersebut tidaklah benar karena kejeniusan atau tingkat intelegensi yang tinggi bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan belajar anak. Masih banyak faktor penentu lain yang terlibat seperti: motivasi belajar, sarana prasarana belajar, keadaan lingkungan belajar, dan sebagainya.
b.   Generalisasi Apriori
Salah nalar ini terjadi ketika seorang penulis melakukan generalisasi atas gejala atau peristiwa yang belum diuji kebenaran atau kesalahannya. Kesalahan corak penalaran ini sering ditimbulkan oleh prasangka. Karena suatu anggota dari suatu kelompok, keluarga, ras atau suku, agama, negara, organisasi, dan pekerjaan atau profesi, melakukan satu atau beberapa kesalahan, maka semua anggota kelompok itu disimpulkan sama. Contoh: semua pejabat pemerintah melakukan tindakan korupsi. Benarkah pernyataan tersebut? Silahkan Anda jawab.

2.    Kerancuan Analogi
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain. Analogi adalah persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg berlainan, kiasan. Contoh dari kerancuan analogi adalah sebagai berikut:
a)    Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
b)   Pada hari senin Patriana kuliah mengendarai sepeda motor. Pada hari selasa Patriana kuliah juga mengendarai sepeda motor. Pada hari rabu patriana kuliah pasti mengendarai sepeda motor.
c)    Rektor harus memimpin universitas seperti jenderal memimpin devisi.

3.    Kekeliruan kausalitas (sebab-akibat)
Kekeliruan kausalitas terjadi karena kekeliruan menentukan dengan tepat sebab dari suatu peristiwa atau hasil (akibat) dari suatu peristiwa atau kejadian. Contoh dari kekeliruan kausalitas (sebab-akibat) adalah sebagai berikut:
a)    Saya tidak bisa berenang karena tidak ada satupun keluarga saya yang dapat berenang.
b)   Saya tidak dapat mengerjakan ujian karena lupa tidak sarapan.

4.    Kesalahan Relevansi
Kesalahan ini akan terjadi jika antar premis tidak punya hubungan logika dengan kesimpulan. Misalnya, bukti peristiwa atau alasan yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang konklusi. Jadi, perlu berhati-hati, ketika sebuah argumen bergantung pada premis yang tidak relevan dengan konklusi, maka tidak mungkin dibangun kebenarannya. Terdapat beberapa jenis kesesatan relevansi yang umum dikenal, berikut penjelasannya:
a)    Argumentum ad hominem: terjadi jika kita berusaha agar orang lain menerima atau menolak suatu usulan, tidak berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alasan yang berhubungan dengan kepentingan si pembuat usul.
b)   Argumentum ad verecundiam: terjadi karena orang yang mengemukakannya adalah orang yang berwibawa dan dapat dipercaya, jadi bukan terjadi karena penalaran logis.
c)    Argumentum ad baculum (menampilkan kekuasaan): terjadi apabila orang menolak atau menerima suatu argumen bukan atas dasar penalaran logis, melainkan karena ancaman atau terror (bisa juga karena faktor kekuatan/kekuasaan).
d)   Argumentum ad populum (menampilkan emosi): artinya ialah ditujukan untuk massa/rakyat. Pembuktian secara logis tidak diperlukan, dan mengutamakan prinsip menggugah perasaan massa sehingga emosinya terbakar dan akhirnya akan menerima sesuatu konklusi tertentu. Contoh sederhananya seperti demonstrasi dan propaganda.
e)    Argumentum ad misericordian (menampilkan rasa kasihan): disebabkan karena adanya rasa belas kasihan. Maksudnya, penalaran ini ditunjukkan untuk menimbulkan belas kasihan sehingga pernyataan dapat diterima, dan biasanya berhubungan dengan usaha agar suatu perbuatan dimaafkan.
f)    Post hoc propter hoc: terjadi karena orang menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal bukan. Pada suatu urutan peristiwa, orang menunjukkan apa yang terjadi lebih dahulu adalah penyebab peristiwa yang terjadi sesudahnya, padahal bukan.
g)   Petitio principii: berarti mengajukan pertanyaan dengan mengamsusikan kebenaran dari apa yang berusaha untuk dibuktikan, dalam upaya untuk membuktikannya. Dikenal dengan pernyataan berupa pengulangan prinsip dengan prinsip.
h)   Argumentum ad ignorantiam (argumen dari keridaktahuan): kesalahan terjadi ketika berargumen bahwa proposisi adalah benar hanya atas dasar bahwa belum terbukti salah, atau bahwa itu adalah salah karena belum terbukti benar.
i)     Ignorantia elenchi: terjadi karena tidak adanya hubungan logis antara premis dan konklusi.

5.    Penyandaran Terhadap Prestise Seseorang
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya. Agar tidak terjadi salah nalar karena faktor penyebab ini, maka perlu di patuhi rambu-rambu sebagai berikut:
a)    Orang itu diakui keahliannya oleh orang lain.
b)   Pernyataan yang dibuat berkenaan dengan keahliannya, dan relevan dengan persoalan yang dibahas.
c)     Hasil pemikirannya dapat diuji kebenarannya.
Hal tersebut mengindikasikan kita sebagai penulis tidak boleh asal mengutip semata-mata karena orang tersebut merupakan orang terpandang, terkenal atau kaya raya dan baik status sosial ekonominya.

2.2.       Mengapa Salah Nalar Sering Terjadi
Salah nalar sering terjadi karena disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud. Contoh penyebab yang salah nalar adalah sebagai berikut:
a)    Hendra mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam leluhurnya.
b)   Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.

2.3.      Faktor Penyebab Terjadinya Salah Nalar
Terjadinya salah nalar, disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Analogi yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
Contoh: Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
2.    Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Contoh: Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas penyuluhannya memiliki enam orang anak

2.4.      Cara Mengatasi dan Menghindari Salah Nalar
Ada beberapa cara untuk mengatasi dan menghindari salah nalar. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
a)    Memilih kata dengan baik;
b)   Harus mengetahui teori dasar dalam berpikir;
c)    Sering membaca buku agar memiliki wawasan yang luas;
d)   Memikirkan perkataan atau kalimat sebelum diucapkan;
e)    Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar;
f)    Jangan menyimpulkan premis dengan cepat;
g)   Dapat berkomunikasi dengan baik;
h)   Tidak cepat menafsirkan atau menarik kesimpulan sebelum dikaji terlebih dahulu kebenarannya; dan lain-lain.
 
BAB III
PENUTUP

3.1.      Kesimpulan
Berdasarkan jawaban dari rumusan masalah seperti yang telah dipaparkan pada Bab II, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, yaitu:
1.    Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi perlu untuk kita perhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara cermat sehingga salah nalar dapat terminimalisasikan. Jika tidak maka akan terjadi salah nalar.
2.    Salah nalar sering terjadi karena disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
3.    Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain
4.    Sesungguhnya salah nalar dapat dihindari dengan mempelajari teori dalam berlogika.

3.2.       Saran
Berdasarkan jawaban dari rumusan masalah seperti yang telah dipaparkan pada Bab II, maka penulis dapat menyarankan beberapa hal, yaitu:
1.    Sebaiknya kita tidak cepat menafsirkan atau menarik kesimpulan sebelum dikaji terlebih dahulu kebenarannya; dan lain-lain.
2.    Sebaiknya kita memikirkan perkataan atau kalimat sebelum diucapkan agar pembicaraan terstruktur dengan baik.
3.    Sebaiknya sering membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.
4.    Sebaiknya Jangan menyimpulkan premis dengan cepat.

DAFTAR PUSTAKA

Minggu, 15 November 2015

Resensi Novel







1.      Identitas Buku
Judul Buku      : Sepatu Dahlan
Penulis             : Khrisna Pabichara
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Mei 2012
Tebal               : 369 halaman
Panjang           : 21cm

2.      Kepengarangan
Sepatu Dahlan merupakan buku pertama dari trilogi yang ditulis oleh Khrisna Pabichara. Beliau adalah seorang penulis prosa dan sudah menghasilkan 13 buku. Meski demikian, beliau sangat serius dalam mengerjakan novel ini sampai-sampai mendatangi kota-kota yang pernah ditinggali Dahlan Iskan sebagai tokoh utamanya dalam novel ini.

3.      Tujuan Resensi (Tujuan Penulis)
Novel ini menggambarkan dengan cukup detai bagaimana masa kecil seorang Dahlan Iskan yang kini menduduki jabatan menteri BUMN di Indonesia. Semasa kecil, Dahlan Iskan hidup dalam kemiskinan dengan mimpi sederhananya yaitu “sepatu”. Sebuah mimpi yang sederhana, namun sulit untuk didapatkan karena keterbatasan ekonomi, untuk makan saja kesulitan. Namun demi “mimpi” kita memang harus berjuang.

4.      Tujuan Resensator (tujuan peresensi)
Novel ini merupakan novel yang menarik dan banyak mengandung nilai-nilai kehidupan. Kisah tentang  perjuangan seorang anak miskin dalam menggapai mimpi sederhananya menyimpan banyak motivasi yang tersirat, terutama “kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya.” membuat kita terus bersyukur akan segala yang telah diberi Tuhan dan tentang sikap pantang menyerah dalam menggapai mimpi.

5.      Sinopsis
Kisah ini berawal dari sebuah desa kecil di Magetan, Kebon Dalem. Sebuah kampung kecil diantara perkebunan tebu yang mayoritas penduduknya hidup kekurangan. Tidak ada listrik ataupun fasilitas lainnya. Saat malam datang rumah-rumah itu hanya berhias lampu teplok. Makanan keseharian mereka Hanyalah Tiwul, karena hanya itu yang mampu mereka beli. Mayoritas pekerjaan mereka adalah nyabit, nguli, dan ngangon, dan itu pula yang dilakukan oleh seorang anak laki-laki bernama Dahlan.
Meski keadaannya demikian tak menyurutkan niat Dahlan bersekolah di SR walau tanpa sepatu yang membuat kakinya lecet hingga melepuh terutama saat musim kemarau. Dan semakin melepuh saat Ia memasuki jenjang Tsanawiyah yang setara dengan SMP, karena jaraknya dua kali lipat dibanding ketika SR. Sejujurnya, Dahlan sangat ingin mempunyai sepatu, tapi jangankan untuk membeli sepatu, untuk makan pun terkadang tak ada.
Tak jarang Dahlan sarapan hanya dengan segelas teh. Begitu pula ayah dan adiknya, jika lapar sudah melilit perut mereka dan tak ada makanan sama sekali, mereka suka mengikatkan sarung di perutnya untuk menahan lapar.
Suatu ketika Ibunya Dahlan masuk rumah sakit. Saat itu benar-benar saat terberat bagi Dahlan, tak ada makanan di rumah, dan Zain terus meronta kelaparan. Dahlan mencoba mencuri tebu, dan sayangnya ketahuan oleh mandor Komar, Ia pun mendapat hukuman. Sejak saat itu Ia tak berani mencuri lagi.
Keadaan semakin berat saat Ibunya tak kunjung sembuh, hingga akhirnya meninggal. Semakin pupus sudah harapan Dahlan untuk memiliki sepasang sepatu. Tapi Ia tak menyerah, Ia masih memiliki Bapak. Bapak, laki-laki yang keras dan disiplin namun sangat Dahlan sayangi. Ia akhirnya berjuang keras demi Bapak, demi senyum yang tak pernah Bapak lontarkan lagi semenjak kematian Ibunya. Prestasi Dahlan di sekolahnya, yaitu Pesantren Takeran semakin meningkat, Ia menjadi kapten bola Voli di sekolahnya, dan Ia terpilih menjadi pengurus Ikatan Santri Pesantren Takeran, ini membuat Bapak bangga dan tersenyum.
Suatu ketika, diadakan pertandingan Voli se-Kabupaten Magelang. Dahlan berjuang keras agar timnya dapat menang. Latihan yang sangat melelahkan di sela-sela pekerjaan yang tak ada habisnya. Dan itu terbayar kontan dengan kemenangan Timnya. Semenjak itu Dahlan dipercaya sebagai pelatih Tim Voli anak-anak dari pegawai Pabrik Gula Gorang-Gareng. Dengan pekejaan ini hidup Dahlan mulai meningkat, Ia bisa dekat dengan gadis bermata indah, Aisha. Dan yang terpenting upah dari hasil melatih Voli yang Ia kumpulkan akhirnya dapat mewujudkan mimpi sederhananya “sepatu dan sepeda”.

6.      Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan buku ini terdapat pada gaya bahasanya yang sederhana, tidak bebelit-belit sehingga mudah dimengerti. Beberapa kutipan percakapan juga diselipi dengan kata-kata dari bahasa Jawa namun tidak menyulitkan pembaca dan tetap mudah dimengerti.
Kekurangan buku ini terdapat pada penggunaan alur. Penulis menggunakan alur maju di setiap babnya, namun alur antar bab tidak menentu (maju-mundur) ada yang tidak tidak berkesinambungan. Seperti pada bab kelima sampai bab ketujuh, yang berturut-turut berjudul “Berhenti Merawat Luka”, “Riwayat Sumur Tua”, dan “Senyum Ibu”. Bab kelima dan ketujuh menceritakan tentang keadaan keluarganya namun pada bab keenam menceritakan tentang sejarah yang tidak ada hubungannya sama sekali, hal ini bisa saja dapat membingungkan pembaca.

7.      Nilai Buku (Kesimpulan dan Saran)
Buku ini cocok untuk dibaca oleh kalangan remaja hingga orang tua. Isinya sederhana dan penuh motivasi. Motivasi untuk berjuang mewujudkan mimpi-mimpi walau di atas segala keterbatasan dan juga bersyukur pada Tuhan atas segala nikmat-Nya.